Rabu, 01 April 2009
LIVE IN (chapter 2)
Icha, x olimpiade, dialah yang akan menanggung nasib bersamaku dikala Live In. Seraya menunggu, kami pun bercakap cakap tak lupa mengucapkan doa untuk keselamatan teman kami yang akan Live In seorang diri di rumah bapak asuhnya tanpa teman, sebut saja Mawar. Lho kok kayak nama pecun?! Oke, sebut saja Silit Pitik atau Broto. Tak lama setelah Broto dijemput bapak asuhnya, Bapak Slamet Mathon, dengan berjalan kaki, aku dan Icha pun mendapat giliran. Bapak Majureri, yang baru kami sadari ternyata adalah seorang Caleg, bersama mas "entah siapa yang pasti bukan anaknya" datang menjemput menunggangi 2 motor bebek yang masing masing akan mengantar kami ke kediaman keluarga bapak caleg. Tak seperti kawan seperjuangan, aku sudah mulai merasakan hawa jahat. Hawa kemalasan. Hawa keeksklusifan yang akan menenggelamkanku ke dalam lautan kebodohan. Saat melihat diriku yang dengan susah payah tak dapat naik motor seraya membopong beban berat, mas itu pun meletakan tasku ke depan sehingga aku pun dapat duduk dengan nyaman. Kepergianku diiringi deru isak tangis. Laju motor berpacu bersama air mata penuh haru teman temanku. Kusadari ternyata style orang desa tak mau kalah dengan kota, ngebut, ugal ugalan tanpa peduli bahwa dia menanggung satu nyawa siswi SMA 3 Semarang. Akhirnya tibalah aku di kediaman bapak caleg disambut oleh Icha yang telah lebih dahulu sampai. Kondisi rumah itu jauh dari prediksiku sebelumnya. Rumah berlantaikan keramik itu pun ternyata telah dipersenjatai oleh seperangkat komputer berupa CPU, speaker, keyboard, printer, walaupun tak dapat kami melihat keberadaan sang monitor. Kamar yang akan kami tempati pun terlihat cukup nyaman dengan seprai motif batiknya. Dapat kami jumpai terdapat lemari dan meja belajar serta gitar Yamaha "made in China" bersenar lima berukir huruf jepang jepangan berbentuk simbol Nazi bersanding disisinya. Dapat kami prediksikan bahwa kamar itu adalah milik dari sang putra sulung yang ternyata beraliran emo, atau tepatnya Jamo, Jawa Emo. Saat kami sedang melancarkan aksi adaptasi, tiba tiba datanglah serigala serigala yang tak ayal lagi hendak merampas kediaman kami yang nyaman ini. Dengan alasan yang agak kurang masuk akal, berhasil lah mereka mengusik kesejahteraan kami. Lalu kami diungsikan ke kediaman Bapak Slamet Mathon yang masih dalam satu kawasan, rt01/rw05
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar, kritik, dan saran serta keluhan demi kenyamanan pengunjung sehingga kami dapat meningkatkan mutu pelayanan demi kepuasan pembaca